Oleh: Dr. K.H. Achmad Roziqi, Lc., M.H.I.
Mudir Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang
Penasehat LBM PWNU Jawa Timur

Setiap kali Idul Adha tiba, kaum muslimin di seluruh dunia mengenang keteladanan Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام dalam peristiwa kurban yang agung. Takbir berkumandang, hewan kurban disembelih, dan semangat berbagi kembali hidup di tengah masyarakat.

Namun, pernahkah kita bertanya: apa pesan terbesar yang ingin diwariskan Nabi Ibrahim kepada umat manusia?

Barangkali jawabannya tidak hanya terletak pada penyembelihan hewan kurban, tetapi pada bagaimana seorang hamba menjadikan seluruh hidupnya berorientasi kepada Allah سبحانه وتعالى. Pelajaran itu tampak jelas dalam doa-doa Nabi Ibrahim yang diabadikan Allah dalam Surah Ibrahim ayat 37–41.

Ibadah Adalah Tujuan, Dunia Hanyalah Sarana

Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan putranya di lembah Makkah yang tandus, sebuah tempat yang saat itu tidak memiliki sumber kehidupan yang memadai, beliau tidak memulai doanya dengan meminta kekayaan, kemakmuran, atau kenyamanan dunia.

Beliau berdoa:

رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ

"Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan salat."
(QS. Ibrahim: 37)

Perhatikanlah prioritas yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim. Di tengah kondisi yang secara manusiawi sangat berat, perhatian utamanya bukanlah urusan dunia, melainkan tegaknya ibadah.

Dari sini kita belajar bahwa kemudahan hidup, rezeki yang lapang, kesehatan, jabatan, pendidikan, maupun berbagai fasilitas dunia bukanlah tujuan akhir kehidupan. Semua itu hanyalah sarana untuk membantu manusia semakin dekat kepada Allah dan semakin baik dalam beribadah kepada-Nya.

Idul Adha mengingatkan kita untuk menata kembali orientasi hidup: apakah dunia yang kita kejar benar-benar membantu kita mendekat kepada Allah, atau justru menjauhkan kita dari-Nya?



Doa adalah Wujud Penghambaan

Dalam rangkaian ayat tersebut, Nabi Ibrahim berulang kali berdoa kepada Allah. Padahal Allah Maha Mengetahui segala kebutuhan hamba-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Mengapa beliau tetap berdoa?

Karena doa bukan sekadar sarana untuk meminta. Doa adalah bentuk penghambaan. Di dalam doa terdapat pengakuan bahwa seorang hamba tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Doa mengajarkan kerendahan hati. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari betapa besar kebutuhannya kepada-Nya.

Oleh karena itu, para nabi adalah manusia yang paling banyak berdoa, bukan karena mereka paling banyak kekurangan, tetapi karena mereka paling memahami hakikat kehambaan.

Syukur atas Nikmat yang Datang dari Allah

Setelah menanti bertahun-tahun dan mencapai usia yang sangat lanjut, Allah menganugerahkan kepada Nabi Ibrahim dua putra yang saleh: Nabi Ismail dan Nabi Ishaq عليهما السلام.

Atas nikmat tersebut beliau berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ

"Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku Ismail dan Ishaq pada usia tua."
(QS. Ibrahim: 39)

Yang menarik, Nabi Ibrahim tidak menisbatkan keberhasilan itu kepada usaha, kecerdasan, ataupun kemampuannya sendiri. Beliau langsung mengembalikan seluruh pujian kepada Allah.

Sikap ini mengajarkan bahwa setiap nikmat pada hakikatnya adalah karunia Allah. Keluarga yang harmonis, anak-anak yang baik, pekerjaan yang layak, kesehatan, dan berbagai keberhasilan yang kita miliki bukanlah semata hasil kemampuan diri, tetapi anugerah dari Rabb yang Maha Pemurah.

Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula rasa syukur yang seharusnya tumbuh dalam hati seorang mukmin.

Warisan Terbesar Adalah Ketaatan

Salah satu pelajaran paling penting dari doa Nabi Ibrahim adalah perhatian beliau terhadap generasi penerus.

Beliau berdoa:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku termasuk orang-orang yang mendirikan salat."
(QS. Ibrahim: 40)

Menariknya, Nabi Ibrahim tidak meminta agar keturunannya menjadi orang-orang terkaya, paling berpengaruh, atau paling terkenal. Beliau justru memohon agar mereka menjadi hamba-hamba yang menjaga salat dan istiqamah dalam ketaatan.

Inilah ukuran keberhasilan keluarga dalam pandangan para nabi.

Keberhasilan pendidikan keluarga tidak semata diukur dari prestasi akademik, karier yang gemilang, atau kemapanan ekonomi. Semua itu memang penting, tetapi yang lebih penting adalah lahirnya generasi yang mengenal Tuhannya, menjaga ibadahnya, dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya.

Di tengah berbagai tantangan zaman, doa Nabi Ibrahim ini menjadi pengingat bahwa investasi terbesar seorang muslim bukan hanya pada masa depan dunia anak-anaknya, tetapi juga pada keselamatan agama mereka.

Semakin Tinggi Kedudukan, Semakin Banyak Istighfar

Di penghujung doanya, Nabi Ibrahim memohon ampunan untuk dirinya, kedua orang tuanya, dan seluruh kaum mukminin.

Padahal beliau adalah salah seorang rasul ulul azmi, kekasih Allah (Khalilullah), dan teladan bagi umat manusia.

Namun kedekatan beliau kepada Allah tidak membuatnya merasa aman dari kesalahan. Justru sebaliknya, semakin tinggi kedudukannya, semakin besar rasa takut, harap, dan ketergantungannya kepada ampunan Allah.

Di sinilah letak perbedaan antara kesombongan dan ketakwaan. Orang yang jauh dari Allah sering kali merasa dirinya baik-baik saja, sedangkan orang yang dekat kepada Allah justru lebih banyak bermuhasabah dan beristighfar.

Karena itu, Idul Adha bukan hanya momentum untuk berkurban, tetapi juga momentum untuk memperbanyak taubat dan memperbaiki hubungan dengan Allah سبحانه وتعالى.

Muhasabah di Hari Raya

Melalui doa-doanya, Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita tentang prioritas hidup yang benar: menjadikan ibadah sebagai tujuan, doa sebagai kebutuhan, syukur sebagai karakter, keluarga sebagai ladang ketaatan, dan istighfar sebagai teman perjalanan menuju Allah.

Maka ketika Idul Adha tiba, ada beberapa pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri:

  • Apakah hidup yang kita jalani telah benar-benar diarahkan untuk mendukung ibadah kepada Allah?

  • Apakah keluarga yang kita bangun bertumpu pada salat dan ketaatan?

  • Apakah kita sungguh-sungguh mendoakan kebaikan agama bagi anak dan keturunan kita?

  • Apakah nikmat yang Allah berikan telah kita syukuri dengan baik?

  • Dan apakah kita telah memperbanyak istighfar serta memohon ampunan kepada-Nya?

Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban. Ia adalah momentum untuk menyembelih ego, meluruskan kembali orientasi hidup, serta memperbarui komitmen penghambaan kepada Allah سبحانه وتعالى.

Nabi Ibrahim عليه السلام telah menunjukkan jalan itu melalui doa-doanya, pengorbanannya, dan ketundukannya yang sempurna kepada Rabb semesta alam.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita mencintai Nabi Ibrahim, melainkan sejauh mana kita telah meneladani beliau.

أَيْنَ نَحْنُ مِنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ؟

"Di manakah posisi kita dibanding beliau?"

 

Editor: M. A. Agustianto