SURABAYA, pcnusurabaya.or.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya menggelar silaturrahim sekaligus turba ke Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gubeng, pada Sabtu (2/5/2026). Acara ini menjadi awal dari rangkaian turba yang akan dilakukan PCNU Surabaya ke semua MWCNU hingga bulan Agustus mendatang. 

Acara yang dihadiri oleh jajaran syuriah dan tanfidziyah dari tingkat Ranting dan MWC Gubeng ini sebagai wujud konsolidasi organisasi Nahdlatul Ulama di kota Surabaya. Juga bertujuan untuk mengevaluasi kinerja organisasi, memperkuat hubungan internal, serta merespons dinamika sosial-politik terkini.

Ketua PCNU Surabaya, Ir. H. Masduki Toha mengatakan, PCNU Surabaya menekankan pentingnya setiap tingkatan pengurus baik MWC atau Ranting untuk bekerja sesuai dengan aturan organisasi (AD/ART dan Perkum). Ke depan akan dilakukan proses penilaian administratif oleh tim gabungan dari PWNU dan PBNU untuk menilai kinerja 31 MWCNU di Surabaya melalui program "MWC Award".

Masduki menambahkan, melalui turba ini diharapkan bisa menjaga harmonisasi antara jajaran Syuriah sebagai engambil kebijakan dan Tanfidziyah sebagai pelaksana, karena itu menjadi kunci kesuksesan organisasi. Ditekankan bahwa jika hubungan ini sudah selaras, maka segala persoalan internal maupun eksternal akan lebih mudah diselesaikan.

Masduki juga menyoroti perlunya hubungan yang lebih erat antara MWCNU dengan Banom-nya seperti Ansor, Muslimat, Fatayat, IPNU, dan IPPNU. Ada penekanan khusus pada pembentukan PAC Fatayat Gubeng yang belum ada, serta memastikan semua Banom bergerak dalam satu komando NU.

Masduki juga mengungkapkan, jika PCNU berencana mengadakan pendalaman khusus mengenai Qonun Asasi (prinsip dasar NU) bagi seluruh pengurus tingkat MWC dan Ranting agar memiliki visi yang sama dalam ber-NU.

Selain itu, NU diharapkan lebih aktif membangun komunikasi dengan Camat, Kapolsek, dan Danramil. Salah satu contohnya adalah menangkap peluang program pemerintah kota, seperti "Pemuda Tangguh", untuk memberdayakan kader-kader NU di setiap RW.

Masduki juga mengingatkan para pengurus agar tidak alergi terhadap politik. Namun, ditekankan bahwa NU harus mampu "memanfaatkan" momentum politik selama lima tahun sekali untuk kepentingan umat, bukan sebaliknya hanya dimanfaatkan oleh kepentingan politik sesaat.

"Jangan sampai kita hanya dimanfaatkan setiap lima tahun, tapi bagaimana dalam lima tahun masa khidmat ini kita bisa memanfaatkan kondisi politik untuk kemajuan organisasi dan pelayanan umat," Ucapnya. 

Masduki optimis dengan jumlah warga NU yang mencapai hampir 60% dari penduduk Surabaya, NU harus menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam membangun kota Surabaya yang lebih jaya. 


Sementara itu, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Gubeng, KH Syamsuri merasa senang kecamatan Gubeng menjadi lokasi pertama Turba yang dilakukan oleh PCNU Surabaya, jajaran pengurus mulai ranting dan MWC merasa bangga bisa bertatap muka langsung. 

Syamsuri menjelaskan, jika MWCNU Gubeng terus menunjukkan eksistensinya dalam membina umat melalui berbagai kegiatan keagamaan yang terstruktur dan istiqomah. Salah satu program unggulan yang menjadi ikon adalah Pengajian Ahad Duha, yang telah berjalan selama hampir 14 tahun. 

Pengajian Ahad Dhuha ini dimulai dengan pengajian dengan jenis kitab berbeda mulai pukul 06.00 WIB. Kegiatan ini diasuh oleh para kiai ternama dengan fokus materi yang beragam, mulai dari akidah, fikih, hingga tasawuf.

 Kiai Ma’ruf Khozin dengan kajian kitab Hujjatul Qath'iyyah An-Nahdliyyah, yang membahas penguatan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah. Kiai Ali Maghfur dengan kajian kitab fikih Rahmatul Ummah. Lalu Kiai Azhar dengan kajian kitab Minhajul Abidin. Kemudian ada Kiai Ali Mashan Musa, Kiai Lukmanul Hakim dengan kitab Husnul Hamidiyyah, Gus Mujab dengan kitab Idhotun Nasyi'in dan Kiai Su'eb.

Untuk program Bulanan dan Tahunan Selain Ahad Duha, MWC NU Gubeng juga memiliki agenda rutin lainnya, Lailatul Ijtima’ dan Lesbumi yang biasa diikuti hingga 300 orang, Khataman Al-Qur'an yang dilaksanakan setiap Jumat awal bulan bakda Subuh yang sudah berjalan selama 6 tahun terakhir.

Lalu program Sarasehan Kader untuk meneguhkan semangat khidmah para kader NU dengan menghadirkan narasumber seperti Kiai Riadi Ngasiran. Lalu Khataman Al-Qur'an Serentak tanggal 1 Muharram yang melibatkan seluruh elemen masyarakat di Kecamatan Gubeng.

"Kami berharap dengan berbagai kegiatan ini, pengurus dan warga NU di Gubeng tetap memiliki ghirah (semangat) yang tinggi dalam berkhidmah, sesuai dengan tema kita malam ini yakni Meneguhkan Khidmah," ujarnya. 

Kegiatan-kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana belajar agama, tetapi juga mempererat silaturahmi antarwarga dan membawa keberkahan bagi masyarakat Gubeng secara umum. Jib