Oleh: Ahmad Syauqi, S.Hum., M.Si.
Dosen FIB Unversitas Airlangga Surabaya
Wakil Sekretaris Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya.

Jihad dan dakwah keduanya adalah serapan dari bahasa Arab. Kata yang pertama berarti kesungguhan hati dan kata yang kedua bisa berarti seruan atau pun ajakan. Dahulu, dakwah dilakukan door to door dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Juga dilakukan di atas mimbar-mimbar pengajian dan di dalam ruang peribadatan. Hari ini, medan tempurnya telah berubah. Medan tempur itu bernama layar ponsel, dan panglima perangnya adalah kode-kode tak kasat mata yang kita kenal sebagai Algoritma.

Jika kita tidak sungguh-sungguh memenangkan algoritma di beranda, dakwah yang sarat akan seruan dan ajakan kebaikan yang kita buat selaras dengan nilai luhur agama dan budaya akan terkubur hidup-hidup. Ia akan kalah telak oleh konten joget yang viral, drama perselingkuhan artis, atau debat kusir politik yang tak berujung. Di sinilah pentingnya kita memahami sebuah konsep baru, yaitu Jihad Algoritma.

Kita tidak boleh lagi merasa cukup hanya dengan niat baik tanpa dibarengi dengan keahlian teknis. Menguasai search engine optimization (SEO), memahami psikologi audiens dalam tiga detik pertama video, hingga mahir meramu narasi yang menggugah emosi adalah bentuk kesungguhan hati—jihad—di masa kini. Tanpa penguasaan terhadap mekanisme kerja platform, dakwah kita hanya akan menjadi gema di ruang hampa, terdengar oleh lingkungan sendiri namun tak pernah mampu menyentuh mereka yang sedang tersesat di luar sana. Memenangkan algoritma berarti merebut kembali kendali atas persepsi publik, mengubah layar ponsel yang semula menjadi sumber fitnah menjadi jendela bagi cahaya ilmu dan kearifan yang menyejukkan jiwa setiap penggunanya.

Ruang Gema Algoritma

Sistem rekomendasi di media sosial baik itu TikTok, Instagram, maupun YouTube, bekerja dengan satu prinsip dasar; memanjakan ego pengguna. Mereka memberi apa yang kita suka. Jika seseorang sering menonton konten provokasi, maka berandanya akan terus dipenuhi narasi kebencian. Fenomena ini menciptakan apa yang disebut ruang gema (Echo Chamber). Kita hanya mendengar suara yang setuju dengan kita, dan menutup diri dari kebenaran lainnya.

Berita tentang pesantren misalnya, framing negatif terhadap pesantren di Indonesia bukan hanya masalah fitnah secara personal, melainkan masalah teknis algoritma. Karena konten negatif lebih cepat menyebar, maka satu-satunya cara untuk melawannya bukan dengan sekadar membantah, tapi dengan membanjiri sistem dengan konten positif yang kemasannya jauh lebih menarik daripada konten negatif tersebut. Strategi ini menuntut kreativitas tanpa batas untuk mengimbangi kecepatan viralitas skandal. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan klarifikasi kaku atau bantahan yang membosankan. Sebaliknya, pesantren harus menjadi produser konten yang mampu mengemas nilai-nilai luhur menjadi tren visual yang estetik dan emosional. Dengan memanfaatkan daya pikat algoritma seperti penggunaan audio populer, teknik storytelling yang menyentuh, dan keterbukaan terhadap isu kemanusiaan. Kita dapat merebut kembali ruang beranda audiens awam. Jihad algoritma berarti memastikan bahwa saat seseorang mencari kata "pesantren", yang muncul bukanlah rentetan skandal, rentetan kelam melainkan keikhlasan, pengabdian, dan prestasi membanggakan yang menjebol tembok prasangka mereka masyarakat awam.

Konten Sebagai Senjata Estetika

Dalam jihad algoritma, niat baik saja tidak cukup. Kualitas visual, audio, dan narasi adalah senjatanya. Kita harus jujur mengakui bahwa selama ini konten dakwah seringkali kalah saing secara estetika. Video ceramah satu jam dengan audio yang pecah dan sudut kamera yang statis tentu sulit bersaing dengan konten hiburan yang diproduksi secara profesional.

Pertama, perhatikan durasi. Algoritma sangat menyukai lama orang bertahan menonton. Maka, video pendek dengan poin yang tajam jauh lebih efektif daripada narasi panjang yang bertele-tele. Satu menit yang mencerahkan jauh lebih berharga daripada satu jam yang membosankan.

Kedua, kreativitas dalam mengikuti tren. Jihad algoritma bukan berarti menjadi pengekor tren yang sia-sia. Namun, kita bisa menggunakan format yang sedang populer untuk menyisipkan nilai moral. Jika ada tren musik atau transisi video yang sedang hype, mengapa tidak digunakan untuk menyampaikan pesan tentang kebaikan seperti rasa syukur dan keikhlasan?Kemasannya populer, namun isinya adalah kebenaran. Strategi ini juga pernah dilakukan oleh Wali Songo dalam sukses dakwahnya di Nusantara.

Kita harus menguasai algoritma agar kebenaran tidak lagi kalah oleh sensasi, melainkan menjadi narasi yang memenangkan hati publik melalui cara-cara yang kreatif, transparan, dan inklusif di dunia digital yang serba cepat ini. 

Melawan Arus Kebisingan Digital

Internet saat ini adalah rimba raya informasi. Di sana, hoax dan konten negatif diproduksi secara terorganisir oleh mesin dan kepentingan tertentu. Jika kita hanya diam, maka algoritma akan terus menyebarkan sampah-sampah digital itu ke jutaan orang.

Jihad algoritma berarti mengorganisir kebaikan secara kolektif. Ketika seorang pendakwah atau kreator konten positif mengunggah sesuatu, dukungan kita berupa like, share, dan komentar positif bukan sekadar bentuk apresiasi, melainkan amunisi untuk mendorong konten tersebut naik ke permukaan. Secara teknis, interaksi tersebut memberi sinyal kepada algoritma bahwa konten ini layak disebarkan lebih luas.

Namun, kita jangan terjerumus dalam jebakan sehingga kita menjadi hamba angka. Jihad algoritma bukan berarti menghalalkan segala cara demi viewers dan likes. Kita tidak perlu menggunakan judul klikbait yang menipu atau menyebarkan kebencian demi viralitas. Jika kita melakukannya, kita tidak sedang berdakwah, tapi sedang terjebak dalam arus yang sama dengan yang kita lawan.

Membangun Kesalehan Digital

Pada akhirnya, dakwah di era digital adalah tentang bagaimana kita menghadirkan sentuhan Tuhan di dalam barisan kode-kode digital. Menulis caption    yang menenangkan, mengedit video dengan estetik, hingga meriset kata kunci (hashtag) yang tepat adalah bentuk ibadah baru di masa kini.

Kita tidak boleh membiarkan algoritma hanya dikendalikan oleh kepentingan komersial dan hiburan tak bermoral. Harus ada value di sana. Harus ada pesan-pesan yang mengingatkan manusia pada hakikat penciptaannya di tengah hiruk-pikuk notifikasi ponsel.

Jihad algoritma adalah upaya kolektif untuk memastikan bahwa ketika seseorang membuka ponselnya di saat mereka sedang sedih, bimbang, atau putus asa, yang muncul pertama kali di beranda mereka bukanlah konten yang menambah beban mental, melainkan konten yang memberikan secercah harapan dan petunjuk dari Tuhan.

Tugas dakwah digital bukan sekadar ceramah indah. Dakwah tidak boleh eksklusif hanya diperuntukkan bagi kalangan yang sudah saleh. Jihad algoritma menuntut kita untuk mampu menjebol dinding echo chamber. Caranya dengan membuat konten yang mampu menyusup ke sela-sela minat umum masyarakat. Kita harus masuk ke beranda orang-orang yang "jauh" dari agama dengan kemasan yang "dekat" dengan mereka, bukan dengan nada menghakimi yang membuat mereka segera menggeser layar (swipe up).

Dunia digital adalah medan pertempuran baru. Dan sudah saatnya kita menggarapnya dengan cara-cara yang paling cerdas, paling artistik, dan paling menyentuh hati.(*)


Editor: M.A. Agustianto