Oleh: Mukani

Penulis Buku Berguru Ke Sang Kiai (2016) dan Pengurus LTN PWNU Jawa Timur

Kajian terhadap pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari tetap menjadi suatu yang menarik. Berbagai konsep pendiri NU ini masih relevan menjadi referensi utama dalam mengatasi problematika bangsa. Terutama dalam bidang pendidikan.

Berbagai nilai-nilai hidup akan diperoleh dari sejarah hidup pendiri Pesantren Tebuireng ini. Karakter kuat untuk memegang idealisme dalam membangun masyarakat sudah menjadi ciri khas dari Mbah Hasyim. 

 

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital, dunia pendidikan Indonesia justru menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pendidikan sering kali kehilangan ruhnya sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Sekolah dan lembaga pendidikan banyak disibukkan dengan target administratif, capaian angka, hingga orientasi formalistik yang terkadang melupakan pembentukan akhlak dan karakter.

 

Fenomena kekerasan di lingkungan pendidikan, degradasi moral generasi muda, budaya instan, hingga menurunnya etika sosial menjadi tanda bahwa pendidikan nasional membutuhkan evaluasi mendalam. Dalam konteks inilah, pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menjadi sangat relevan untuk dikaji ulang.

 

Pendiri Nahdlatul Ulama tersebut bukan hanya seorang ulama besar dan pejuang bangsa, tetapi juga pemikir pendidikan yang memiliki konsep sangat visioner. Pemikiran beliau tidak sekadar berbicara tentang transfer ilmu pengetahuan, melainkan pembentukan karakter manusia melalui pendidikan yang berlandaskan nilai spiritual, moral, dan tradisi keilmuan Islam.

 

Mbah Hasyim seolah telah mengingatkan jauh hari bahwa pendidikan yang kehilangan nilai-nilai ruhani akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.

 

Mbah Hasyim lahir dalam lingkungan pesantren yang kuat. Tradisi intelektual yang beliau bangun di Pesantren Tebuireng tidak hanya menekankan penguasaan kitab kuning, tetapi juga pembentukan kepribadian santri.

 

Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin dalam menjaga adab, baik kepada guru, ilmu, maupun sesama manusia. Dalam tradisi pesantren, ilmu tidak sekadar dipahami sebagai pengetahuan rasional, tetapi cahaya yang harus dijaga keberkahannya.

 

Karena itu, Mbah Hasyim menempatkan adab sebagai fondasi utama pendidikan. Dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, beliau menjelaskan secara rinci bagaimana etika guru dan murid harus dijaga agar proses pendidikan menghasilkan keberkahan ilmu.

 

Bagi Mbah Hasyim, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan akademik, tetapi juga dari kualitas akhlak peserta didik. Ilmu yang tidak melahirkan akhlak hanya akan melahirkan kesombongan dan kerusakan sosial.

 

Pandangan ini terasa sangat relevan di era sekarang ketika pendidikan sering kali hanya mengejar kompetisi akademik, tetapi kurang memberi perhatian terhadap pembinaan karakter.

 

Rujukan Utama


Mbah Hasyim merupakan sosok ulama besar yang telah memperoleh pengakuan reputasi keilmuan dan ketinggian akhlak yang ditunjukkan. Dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat sekitar, bahkan skala nasional, Mbah Hasyim selalu merespon dan memberikan jalan keluar.


Mbah Hasyim cukup aktif dalam memberikan peran positif, baik berupa aktivitas pergerakan, perjuangan maupun pemikiran. Mbah Hasyim sering menjadi rujukan utama saat menjawab berbagai masalah yang dilakukan oleh beberapa pemikir pada masa sesudahnya.


James J. Fox (2000), antropolog dari Australian National University, menyebut Mbah Hasyim sebagai salah satu waliyullah yang sangat berpengaruh di pulau Jawa. Fakta ini dikarenakan Mbah Hasyim memiliki kedalaman ilmu dan diyakini membawa berkah bagi para pengikutnya.


Dalam bidang pluralisme dan toleransi beragama, misalnya, pemikiran Mbah Hasyim lebih menunjukkan kepada sebuah kesadaran di antara masyarakat muslim untuk menghormati keberadaan dari kelompok masyarakat lain. Pemikiran Mbah Hasyim dalam bidang toleransi ini telah mampu mendorong masyarakat muslim untuk bersikap adil kepada masyarakat lain atas dasar perdamaian dan saling menghormati. Peran positif dalam bidang ini, menurut Nurcholis Madjid (1992), mampu menempatkan nama Mbah Hasyim sejajar dengan Ibnu Taimiyyah.


Sedangkan menurut Howard M. Federspiel (2000), profesor di McGill University Montreal Kanada, Mbah Hasyim bukan merupakan sosok ulama yang menolak perubahan, tetapi, agaknya, sebagai seseorang yang tertarik kepada perubahan. Meski hanya di dalam sistem tradisional Islam sendiri. Ini dibuktikan dengan luasnya cakrawala berpikirnya.

 

Dinamisasi Pendidikan


Berbagai konsep pendidikan yang ditawarkan Mbah Hasyim “melampaui masanya” kala itu. Seolah terlalu modern untuk ukuran zamannya. Perlu kajian mendalam terhadap substansi pemikiran berdasarkan berbagai referensi yang sudah ditulis Mbah Hasyim.


Pemikiran pendidikan yang digagas Mbah Hasyim telah memberikan kesadaran tersendiri dalam mendefinisikan ulang terhadap substansi pendidikan. Definisi sepihak dan sempit yang mengasumsikan bahwa pendidikan sebagai transfer of knowledge semata, telah “dipaksa” untuk menginterpretasikan ulang terhadap apa yang harus dititikberatkan transfer of values dalam pendidikan menurut Mbah Hasyim.


Pemikiran pendidikan Mbah Hasyim mengingatkan kembali terhadap something lost dalam ruh pendidikan pada masa sekarang. Yaitu urgensi penanaman nilai-nilai dalam diri siswa, di samping penguasaan ilmu pengetahuan tentunya.


Upaya ini mencapai titik temu saat Mbah Hasyim mengingatkan bahwa dalam dunia pendidikan tidak sekedar urusan administrasi. Namun juga substansi, yang harus dilakukan guru dan siswa. Tidak heran jika untuk meraih karakter itu, Mbah Hasyim menyarankan agar guru dan siswa melaksanakan ibadah-ibadah sunnah saat berproses dalam dunia pendidikan. Baik berupa puasa, shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir, silaturahim dan sebagainya.


Mbah Hasyim dengan pemikiran pendidikan yang sudah ditulis bisa dijadikan sebagai solusi dari berbagai problematika yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia pada masa sekarang. Artinya, meskipun memiliki setting masa yang berbeda, pemikiran pendidikan Mbah Hasyim masih sesuai digunakan sebagai bahan kajian (rujukan) dan diaktualisasikan pada masa sekarang.


Pemikiran pendidikan yang digagas Mbah Hasyim lebih berorientasi kepada aspek religius-etis dan memiliki afinitas ilmiah dengan para pemikir pendidikan sebelumnya yang terdapat di dalam masyarakat muslim. Mbah Hasyim berkeinginan untuk tetap melestarikan praktek-praktek keagamaan dari ulama salaf, yang harus dimulai dari pemahaman terhadap ajaran Islam melalui bidang pendidikan.

Seolah Mbah Hasyim telah “mengingatkan” anak bangsa Indonesia untuk serius memikirkan dunia pendidikan. Sebagai think tank sebuah peradaban bangsa, pendidikan sudah saatnya memperoleh perhatian secara proporsional. Tidak seperti sekarang yang sekedar berkutat kepada politik praktis, berebut kursi kekuasaan.


Pendidikan sudah waktunya melakukan berbagai balancing dari aspek yang selama ini dinomorduakan. Urusan-urusan administratif dan bersifat rutinitas yang seolah membelenggu para pendidik, terlebih birokratisasi profesi pendidik, sudah saatnya dikurangi.

Ini dilakukan agar para pendidik memiliki waktu lebih untuk mengembangkan kompetensi yang dimiliki. Terlebih dalam dunia kepenulisan, mengingat pendidik adalah jabatan akademik, bukan sekedar pegawai biasa.

Editor: Bustan