| Oleh: Dr. H. Muhammad Ghufron, Lc., M.H.I. Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, LDNU Kota Surabaya, Komisi Dakwah MUI Jatim, Tim Pembina dan Fasilitator Diklat Petugas Haji Kemenhaj Jatim |
Pendahuluan
Setiap kali bulan Dzulhijjah tiba, umat Islam kembali diingatkan pada sosok agung yang jejaknya melintasi zaman: Nabi Ibrahim a.s. Nama beliau hadir dalam ibadah haji, kurban, shalat, bahkan dalam shalawat yang dibaca oleh jutaan Muslim setiap hari. Hal ini menunjukkan bahwa Ibrahim bukan sekadar tokoh sejarah yang dikenang, melainkan figur yang terus hidup dan relevan dalam kehidupan umat Islam.
Menariknya, meskipun umat Islam adalah pengikut Nabi Muhammad ﷺ, Allah Swt. memerintahkan Rasulullah untuk mengikuti jalan Ibrahim.
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim yang lurus." (QS. An-Nahl: 123)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ merupakan kelanjutan dari risalah tauhid yang diperjuangkan Nabi Ibrahim a.s. Oleh karena itu, memahami jejak Ibrahim berarti memahami salah satu fondasi utama ajaran Islam.
Pertanyaannya, di tengah dunia modern yang ditandai oleh kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, media sosial, dan budaya serba instan, apakah jejak Ibrahim masih relevan? Jawabannya bukan hanya relevan, tetapi justru semakin mendesak untuk dihadirkan kembali.
Ibrahim dan Krisis Manusia Modern
Kemajuan peradaban modern telah membawa banyak kemudahan. Komunikasi berlangsung dalam hitungan detik. Informasi tersedia tanpa batas. Mobilitas manusia semakin cepat. Namun kemajuan tersebut tidak otomatis menghadirkan ketenangan hidup.
Banyak orang mengalami kegelisahan di tengah kemakmuran. Banyak yang merasa kesepian di tengah keramaian media sosial. Banyak yang memiliki akses ilmu yang luas tetapi kehilangan arah hidup.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama manusia bukan semata persoalan teknologi, melainkan persoalan makna.
Dalam konteks inilah jejak Ibrahim menjadi sangat relevan.
Ibrahim hidup di tengah masyarakat yang mengalami krisis keyakinan. Berhala bukan sekadar patung batu yang disembah, melainkan simbol segala sesuatu yang mengambil posisi Tuhan dalam kehidupan manusia.
Jika dahulu berhala berbentuk batu dan kayu, maka hari ini berhala dapat menjelma dalam bentuk yang lebih modern: uang, jabatan, popularitas, kekuasaan, bahkan ego dan hawa nafsu.
Karena itu perjuangan Ibrahim melawan berhala sesungguhnya belum berakhir. Bentuknya berubah, tetapi hakikatnya tetap sama.
Keberanian Melawan Arus
Pelajaran pertama yang diwariskan Ibrahim adalah keberanian mempertahankan kebenaran.
Ketika masyarakatnya menyembah berhala, Ibrahim berani berkata tidak.
Ketika seluruh lingkungan menganggap penyembahan berhala sebagai tradisi yang wajar, Ibrahim memilih berdiri sendiri membela tauhid.
Keberanian semacam ini menjadi sangat penting di era digital saat ini.
Masyarakat modern hidup dalam budaya mengikuti arus. Kebenaran sering kali diukur berdasarkan jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau tingkat popularitas. Apa yang viral dianggap benar, sementara yang tidak populer sering kali diabaikan.
Padahal kebenaran tidak selalu berada di pihak mayoritas.
Ibrahim mengajarkan bahwa seorang mukmin harus memiliki keberanian moral untuk mempertahankan prinsip meskipun tidak populer.
Dalam bahasa sederhana, Ibrahim mengajarkan bahwa:
Tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang benar akan menjadi viral.
Di tengah derasnya arus informasi dan opini, keberanian untuk berpikir kritis dan berpegang pada nilai-nilai kebenaran menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Keluar dari Zona Nyaman
Salah satu penyakit terbesar masyarakat modern adalah kecenderungan hidup dalam zona nyaman.
Segala sesuatu tersedia dalam genggaman. Hiburan dapat diakses kapan saja. Media sosial menghadirkan kesenangan tanpa batas. Akibatnya, banyak orang terlena dalam kenyamanan dan kehilangan semangat perjuangan.
Generasi saat ini sesungguhnya tidak kekurangan informasi.
Mereka juga tidak kekurangan hiburan.
Yang sering kurang adalah fokus dan arah hidup.
Banyak orang sibuk tetapi tidak produktif.
Banyak yang terhibur tetapi tidak bahagia.
Banyak yang terhubung dengan dunia tetapi terputus dari dirinya sendiri.
Dalam konteks ini, Ibrahim memberikan teladan yang luar biasa.
Beliau meninggalkan kampung halaman demi mempertahankan keyakinan.
Beliau meninggalkan kenyamanan demi menjalankan perintah Allah.
Beliau meninggalkan zona aman demi sebuah misi besar.
Tidak ada nabi yang lahir dari zona nyaman.
Tidak ada peradaban besar yang dibangun oleh generasi yang hanya mengejar hiburan.
Tidak ada perubahan besar tanpa keberanian meninggalkan kenyamanan.
Karena itu, salah satu pesan terbesar Ibrahim bagi generasi modern adalah keberanian untuk keluar dari rutinitas yang melalaikan dan bergerak menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Spirit Pengorbanan di Tengah Budaya Instan
Peristiwa kurban yang diperingati setiap Dzulhijjah merupakan simbol pengorbanan terbesar dalam sejarah manusia.
Ketika Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan Ismail, yang diuji bukan sekadar cinta seorang ayah kepada anaknya, tetapi tingkat kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya.
Kisah ini mengandung pelajaran yang sangat penting bagi masyarakat modern.
Kita hidup di zaman yang menyukai hasil tetapi sering melupakan proses.
Banyak orang ingin sukses tanpa perjuangan.
Ingin panen tanpa menanam.
Ingin berhasil tanpa berkorban.
Padahal hukum kehidupan tidak pernah berubah.
Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras.
Tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan.
Tidak ada kemenangan tanpa kesabaran.
Karena itu makna kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata.
Yang lebih penting adalah kemampuan menyembelih sifat-sifat buruk dalam diri.
Menyembelih kesombongan.
Menyembelih keserakahan.
Menyembelih egoisme.
Menyembelih kemalasan.
Menyembelih hawa nafsu yang menghalangi manusia dari jalan Allah.
Kurban sejati adalah ketika seseorang mampu mengalahkan dirinya sendiri demi mencapai ridha Allah.
Menjadi Manusia yang Bermanfaat
Warisan besar Ibrahim tidak hanya berupa keteladanan spiritual, tetapi juga kebermanfaatan sosial.
Ka'bah yang beliau bangun ribuan tahun lalu masih menjadi pusat ibadah umat Islam hingga hari ini. Jejak pengabdiannya tetap hidup dan dirasakan oleh miliaran manusia lintas generasi.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia besar adalah manusia yang manfaatnya melampaui zamannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."
Di tengah budaya individualisme yang semakin menguat, pesan ini menjadi sangat penting.
Masyarakat modern tidak kekurangan orang pintar.
Tidak kekurangan teknologi.
Tidak kekurangan informasi.
Yang sering kurang adalah kepedulian, keteladanan, dan kebermanfaatan.
Karena itu ukuran kesuksesan seorang Muslim bukan hanya seberapa tinggi jabatannya atau seberapa besar kekayaannya, tetapi seberapa luas manfaat yang dapat ia berikan kepada orang lain.
Jejak Ibrahim mengajarkan bahwa hidup yang bernilai adalah hidup yang memberi arti bagi sesama.
Muhammad dan Ibrahim: Satu Jalan Tauhid
Mengikuti Nabi Muhammad ﷺ tidak dapat dipisahkan dari meneladani Ibrahim.
Dalam setiap shalat, umat Islam membaca shalawat Ibrahimiyah:
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم
Penyebutan dua nama agung ini secara berdampingan bukan tanpa makna.
Ia menegaskan bahwa risalah Muhammad adalah kelanjutan dari perjuangan Ibrahim.
Tauhid yang diajarkan Muhammad adalah tauhid yang diperjuangkan Ibrahim.
Akhlak yang diajarkan Muhammad adalah akhlak yang dicontohkan Ibrahim.
Pengorbanan yang diajarkan Muhammad adalah pengorbanan yang diwariskan Ibrahim.
Karena itu, siapa yang ingin menjadi pengikut Muhammad yang sejati, hendaknya juga belajar dari keteladanan Ibrahim.
Penutup
Di tengah dunia yang dipenuhi distraksi, manusia modern membutuhkan sosok teladan yang mampu mengembalikan arah hidupnya. Ibrahim a.s. hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut.
Ketika manusia kehilangan pegangan, Ibrahim mengajarkan tauhid.
Ketika manusia takut berbeda, Ibrahim mengajarkan keberanian.
Ketika manusia terlena dalam zona nyaman, Ibrahim mengajarkan perjuangan.
Ketika manusia terjebak dalam egoisme, Ibrahim mengajarkan pengorbanan.
Ketika manusia sibuk mengejar kepentingan pribadi, Ibrahim mengajarkan kebermanfaatan.
Mungkin kita tidak akan pernah membangun Ka'bah sebagaimana Ibrahim membangunnya.
Mungkin kita tidak akan pernah mencapai derajat beliau sebagai Khalilullah.
Namun kita dapat mewarisi semangatnya.
Berani benar seperti Ibrahim.
Berani berkorban seperti Ibrahim.
Berani bermanfaat seperti Ibrahim.
Jika nilai-nilai ini hidup kembali di tengah masyarakat modern, maka kemajuan teknologi tidak akan kehilangan arah, kemakmuran tidak akan kehilangan makna, dan kehidupan akan tetap dipenuhi keberkahan.
Jejak Ibrahim bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi cahaya yang terus menerangi perjalanan umat menuju masa depan yang lebih bermartabat dan bermakna.
Editor: M.A. Agustianto