Suara Nahdliyyin
Strategi Mengelola Konsumsi dan Meningkatkan Kecerdasan Financial Masyarakat Muslim Indonesia
pcnusurabaya
Oleh: Dr. Muchammad Saifuddin, M.SM. Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo |
Perilaku Boros dan Konsumtif
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pengeluaran konsumsi rumah tangga Indonesia masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Sepanjang tahun 2025, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,98% (cumulative-to-cumulative) dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,62 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,11%. Di tengah dinamika perekonomian Indonesia saat ini, masyarakat menghadapi berbagai tantangan seperti kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, serta perubahan pola konsumsi akibat perkembangan teknologi digital. Kondisi tersebut menuntut masyarakat untuk semakin bijak dalam mengelola keuangan, mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan, serta membangun perilaku konsumsi yang lebih rasional. Namun demikian, realitas menunjukkan bahwa perilaku konsumtif masih menjadi fenomena yang umum terjadi. Kemudahan akses kredit digital, maraknya promosi melalui platform e-commerce, serta tren gaya hidup yang berkembang di media sosial mendorong sebagian masyarakat melakukan pembelian yang tidak selalu didasarkan pada kebutuhan. Akibatnya, pengeluaran konsumsi sering kali meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan finansial yang dimiliki. Oleh karena itu, penguatan literasi keuangan dan kesadaran untuk menerapkan pola konsumsi yang bertanggung jawab menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mencapai kesejahteraan ekonomi yang berkelanjutan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pembiayaan fintech peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia mencapai sekitar Rp80,9 triliun pada akhir 2025, meningkat sekitar 29,1% (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa layanan pinjaman digital masih menjadi salah satu sumber pembiayaan yang berkembang pesat di Indonesia. Ketika tingkat konsumsi masyarakat terus meningkat sementara pertumbuhan pendapatan tidak selalu mampu mengimbanginya, maka risiko peningkatan utang rumah tangga menjadi semakin besar. Kondisi ini semakin diperkuat oleh kemudahan akses terhadap berbagai layanan pembiayaan digital, seperti fintech peer-to-peer lending, paylater, kartu kredit, dan pinjaman online. Di satu sisi, layanan tersebut memberikan alternatif pembiayaan yang cepat dan praktis bagi masyarakat. Namun, di sisi lain, penggunaan yang tidak bijaksana dapat mendorong masyarakat untuk melakukan konsumsi di luar kemampuan finansialnya. Akibatnya, beban utang dapat meningkat dan berpotensi menimbulkan masalah keuangan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan literasi keuangan, mempertimbangkan kemampuan pembayaran sebelum mengambil pinjaman, serta mengutamakan pengelolaan keuangan yang sehat agar tidak terjebak dalam siklus utang yang berkepanjangan.
Literasi keuangan rendah
Meskipun mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih perlu terus ditingkatkan. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Badan Pusat Statistik, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46%, meningkat dibandingkan hasil SNLIK 2024 sebesar 65,43%. Meskipun menunjukkan tren yang positif, angka tersebut mengindikasikan bahwa masih terdapat sebagian masyarakat yang belum memiliki pemahaman dan keterampilan keuangan yang memadai untuk mengambil keputusan keuangan secara efektif. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya literasi keuangan di Indonesia antara lain kurangnya akses terhadap informasi keuangan, rendahnya pendidikan dan pemahaman mengenai keuangan, serta minimnya pengalaman dan kesadaran dalam mengelola keuangan pribadi. Namun, pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa langkah untuk meningkatkan literasi keuangan di negara ini, seperti meluncurkan program-program edukasi keuangan dan menyediakan akses ke produk keuangan yang lebih terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat. Selain itu, sektor swasta juga berperan dalam meningkatkan literasi keuangan, seperti melalui program-program CSR yang berfokus pada edukasi keuangan, serta melalui pengembangan teknologi keuangan yang mempermudah akses dan pengelolaan keuangan pribadi. Dalam upaya meningkatkan literasi keuangan di Indonesia, penting bagi masyarakat untuk mengembangkan pemahaman dan pengetahuan yang lebih baik mengenai manajemen keuangan pribadi, investasi, penghematan, dan perencanaan keuangan jangka panjang.
| ilustrasi masyarakat konsumtif akibat rendahnya tingkat literasi keuangan |
PERILAKU SOLUTIF
Mangubah perilaku konsumtif menjadi produktif
Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengelola keuangan secara lebih bijak di tengah meningkatnya biaya hidup dan berbagai tantangan ekonomi saat ini. Pertama, melakukan perencanaan keuangan dan anggaran belanja dengan menyusun daftar kebutuhan berdasarkan skala prioritas sehingga pengeluaran dapat lebih terkontrol dan terhindar dari pembelian impulsif. Kedua, menerapkan perilaku konsumsi yang efisien dengan membandingkan harga, memanfaatkan promo dan diskon secara bijak, serta memilih produk yang memberikan nilai manfaat terbaik sesuai kebutuhan. Ketiga, meningkatkan kesadaran terhadap prioritas keuangan, seperti menyeimbangkan pengeluaran konsumsi dengan kebutuhan tabungan, dana darurat, dan investasi jangka panjang. Keempat, mengembangkan sumber pendapatan tambahan melalui berbagai peluang ekonomi digital maupun konvensional, seperti berwirausaha, menjadi pekerja lepas (freelancer), memberikan pelatihan atau konsultasi sesuai kompetensi, serta memanfaatkan platform digital untuk menciptakan nilai ekonomi baru. Dengan menerapkan strategi tersebut, masyarakat dapat membangun ketahanan keuangan yang lebih baik dan mengurangi risiko permasalahan keuangan di masa mendatang.
Meningkatkan Literasi keuangan
Selain mengubah perilaku konsumtif menjadi produktif, meningkatkan literasi keuangan di Indonesia juga sangat diperlukan, literasi keuangan adalah kemampuan individu untuk memahami dan mengelola keuangan pribadi dengan baik. Ini mencakup pemahaman tentang konsep-konsep keuangan seperti pengeluaran, pendapatan, investasi, tabungan, pengelolaan utang, asuransi, dan rencana keuangan jangka panjang. Literasi keuangan juga melibatkan keterampilan dalam membuat keputusan keuangan yang cerdas dan memilih produk keuangan yang tepat untuk mencapai tujuan keuangan pribadi. Dengan literasi keuangan yang baik, individu dapat mengelola keuangan mereka secara efektif dan membangun keamanan keuangan jangka panjang. Terdapat melalui beberapa cara dalam meningkatkan literasi keuangan, Pertama mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang manajemen keuangan, penghematan, investasi, dan perlindungan keuangan sangat penting untuk meningkatkan literasi keuangan. Pendidikan dan pelatihan dapat diikuti melalui seminar, pelatihan, dan program pendidikan formal. Kedua kolaborasi dengan Industri Keuangan seperti bank, asuransi, dan perusahaan investasi dapat membantu meningkatkan literasi keuangan di Indonesia. Industri keuangan dapat memberikan informasi dan edukasi tentang produk dan layanan keuangan yang mereka tawarkan serta membantu masyarakat untuk memilih produk dan layanan yang tepat untuk kebutuhan mereka. Ketiga memahami program Pemerintah seperti program tabungan pendidikan, program dana pensiun, dan program perlindungan keuangan. Program-program tersebut dapat membantu masyarakat memahami pentingnya mengelola keuangan dengan baik. Ketiga pemanfaatan teknologi seperti aplikasi keuangan dapat membantu meningkatkan literasi keuangan di Indonesia. Aplikasi keuangan dapat membantu masyarakat untuk mengelola keuangan mereka dengan lebih baik, memantau pengeluaran mereka, serta membantu mereka untuk merencanakan dan mengatur keuangan mereka dengan lebih baik.
Meningkatkan Kecerdasan financial
Kecerdasan finansial juga sangat diperlukan dalam menghindari perilkau konsumtif, kecerdasan keuangan atau financial intelligence adalah kemampuan individu dalam memahami dan mengelola keuangan dengan baik. Hal ini meliputi kemampuan untuk mengelola pengeluaran, mengatur anggaran, mengambil keputusan investasi yang tepat, serta memahami risiko dan peluang dalam investasi. Kecerdasan finansial penting bagi semua orang, baik itu individu, keluarga, maupun perusahaan. Dengan memiliki kecerdasan finansial yang baik, individu atau perusahaan dapat mengambil keputusan keuangan yang tepat, mengelola risiko dengan lebih baik, dan meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan. Beberapa cara untuk meningkatkan kecerdasan finansial antara lain; Pertama belajar tentang keuangan dan investasi dengan membaca buku atau mengikuti seminar dan pelatihan dapat membantu individu meningkatkan pemahaman tentang manajemen keuangan dan investasi. Kedua membuat anggaran dan mengelola pengeluaran dapat membantu kita mengelola uang dengan lebih baik. Dengan mengetahui pengeluaran setiap bulan, kita dapat membuat keputusan keuangan yang lebih baik dan memperbaiki kebiasaan pengeluaran. Ketiga berinvestasi dapat membantu meningkatkan kekayaan dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang. Namun, sebelum berinvestasi, kita perlu memahami risiko dan peluang dalam investasi dan memilih jenis investasi yang tepat untuk kebutuhan. Keempat mengelola risiko dalam keuangan sangat penting untuk melindungi kekayaan dan menghindari kerugian. Kita perlu memahami risiko dalam investasi dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko tersebut.
Indonesia masih menghadapi tantangan untuk keluar dari fenomena Middle Income Trap (MIT), yaitu kondisi ketika suatu negara berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah tetapi mengalami kesulitan untuk bertransformasi menjadi negara berpendapatan tinggi. Dalam berbagai kajian ekonomi pembangunan, kemampuan inovasi, penguasaan teknologi, peningkatan produktivitas, dan pengembangan industri bernilai tambah tinggi dipandang sebagai faktor kunci untuk keluar dari jebakan tersebut. Oleh karena itu, penguatan kapasitas inovasi masyarakat, dunia usaha, dan institusi pendidikan menjadi agenda strategis dalam mendorong daya saing nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp24.800 triliun. Sementara itu, PDB per kapita Indonesia mencapai sekitar Rp88 juta atau setara dengan US$5.500. Meskipun menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, angka tersebut masih menempatkan Indonesia dalam kategori negara berpendapatan menengah atas (upper middle-income country) menurut klasifikasi Bank Dunia. Kondisi ini mengindikasikan bahwa Indonesia masih perlu meningkatkan produktivitas, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia agar dapat mencapai status negara berpendapatan tinggi serta terhindar dari risiko Middle Income Trap.
| ilustrasi masyarakat Nahdliyyin dengan financial freedom. |
Bagaimana Indonesia dapat keluar dari Middle Income Trap dan menjadi negara maju?
Upaya keluar dari Middle Income Trap tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif seluruh masyarakat. Transformasi menuju negara maju dapat dimulai dari tingkat individu dan keluarga melalui perubahan pola pikir dan perilaku ekonomi. Masyarakat perlu menggeser orientasi dari perilaku konsumtif menuju perilaku yang lebih produktif, inovatif, dan bernilai tambah. Selain itu, peningkatan literasi keuangan menjadi sangat penting agar masyarakat mampu mengelola pendapatan, tabungan, investasi, dan utang secara lebih bijaksana.
Di era ekonomi digital, kecerdasan finansial tidak lagi sekadar kemampuan mengatur pengeluaran, tetapi juga kemampuan memanfaatkan peluang ekonomi, mengembangkan keterampilan, berinvestasi pada aset produktif, serta menciptakan sumber pendapatan baru. Semakin banyak masyarakat yang produktif, inovatif, dan melek finansial, semakin besar pula kontribusi yang dapat diberikan terhadap peningkatan produktivitas nasional, pertumbuhan ekonomi, dan daya saing Indonesia. Dengan demikian, pembangunan sumber daya manusia yang unggul, produktif, dan berorientasi pada inovasi merupakan salah satu kunci utama bagi Indonesia untuk keluar dari Middle Income Trap dan mencapai status negara maju.
Editor: M.A. Agustianto