Khazanah islam
Memperkuat Ukhuwwah, Mengunduh Berkah: Spirit Qonun Asasi Nahdlatul Ulama dalam Menyambut Tahun Baru Hijriah
pcnusurabaya
| Oleh: Dr. K.H. Achmad Roziqi, Lc., M.H.I. Mudir Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang Penasehat LBM PWNU Jawa Timur |
Tahun Baru Hijriah - bukan sekadar penanda pergantian angka dalam kalender Islam. Ia adalah momentum untuk kembali mengingat pelajaran besar yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ melalui peristiwa hijrah; sebuah pelajaran tentang membangun masyarakat yang kuat dengan fondasi persaudaraan, cinta, dan pengorbanan.
Manusia pada hakikatnya tidak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain untuk saling menguatkan, saling memahami, dan saling membantu dalam mengarungi kehidupan. Karena itu, persatuan dan kebersamaan merupakan kebutuhan dasar setiap komunitas, bahkan setiap peradaban.
Nilai fundamental ini telah lama diajarkan oleh Hadhrotusy Syeikh KH. M. Hasyim Asy'ari dalam Al-Qonun Al-Asasi. Beliau menulis:
إن الاجتماع والتعارف والاتحاد والتآلف هو الأمر الذي لا يجهل أحد منفعته
"Sesungguhnya berkumpul, saling mengenal, bersatu, dan saling mencintai adalah sesuatu yang manfaatnya tidak mungkin diingkari oleh siapa pun."
Lebih lanjut, Hadhrotusy Syeikh menggambarkan umat Islam sebagai satu tubuh yang utuh. Masing-masing memiliki peran dan fungsi yang berbeda, tetapi seluruhnya saling membutuhkan dan saling menopang.
إنما الأمة الوحيدة كالجسم وأفرادها كالأعضاء كل عضو له وظيفة صنع لا ترى الجسم عنه في استغناء"Sesungguhnya umat yang satu itu laksana sebuah tubuh, sedangkan individu-individunya seperti anggota badan. Setiap anggota memiliki fungsi tersendiri, dan tubuh tidak akan pernah merasa cukup tanpa keberadaan anggota tersebut."
Karena itulah persatuan bukan sekadar pilihan, melainkan syarat bagi terwujudnya keberhasilan, kemajuan, dan kebahagiaan bersama.
Menariknya, gagasan ini bukanlah konsep baru yang lahir dari pemikiran modern. Ia merupakan jejak langsung dari langkah pertama Rasulullah ﷺ ketika membangun masyarakat Islam di Madinah. Setelah hijrah, salah satu agenda besar yang beliau lakukan adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Syeikh Khudhari Beik dalam Nur al-Yaqin fi Sirah Sayyid al-Mursalin menyebut peristiwa ini sebagai bentuk persaudaraan pada tingkat tertinggi, أعلى درجات الأخوة.
Persaudaraan tersebut bukan hanya slogan. Ia terwujud dalam cinta yang tulus, empati yang mendalam, dan pengorbanan yang nyata. Karena itulah Allah mengabadikan kemuliaan kaum Anshar dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(QS. Al-Hasyr: 9)
Syeikh Nawawi al-Bantani dalam Marah Labid menjelaskan bahwa kaum Anshar memiliki tiga karakter utama, yaitu:
Pertama, mereka mencintai kaum Muhajirin karena kecintaan mereka kepada iman.
يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ
Kedua, mereka tidak menyimpan iri hati terhadap berbagai keistimewaan dan bantuan yang diterima kaum Muhajirin.
وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً أي حزازة وحسداً
Tidak ada ganjalan, tidak ada dengki, tidak ada rasa berat dalam hati mereka.Ketiga, mereka mampu mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya sendiri.
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga berada dalam keadaan membutuhkan."
Inilah puncak akhlak sosial yang disebut al-itsar; kemampuan mengalahkan ego demi kemaslahatan orang lain.
Keagungan akhlak tersebut tergambar dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyiduna Abu Hurairah رضي الله عنه.
Beliau menceritakan:
عن أبى هريرة قال: أتى رجل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، أصابنى الجهد، فأرسل إلى نسائه فلم يجد شيئا، فقال صلى الله عليه وسلم: «ألا رجل يضيف هذا الرجل الليلة رحمه الله» ؟ فقال رجل من الأنصار ـ وفي رواية أنه أبو طلحة ـ فقال: أنا يا رسول الله.
فذهب به إلى أهله، فقال لامرأته: أكرمى ضيف رسول الله صلى الله عليه وسلم. قالت: والله ما عندي إلا قوت الصبية.
قال: إذا أراد الصبية العشاء فنوميهم، وتعالي فأطفئي السراج، ونطوي بطوننا الليلة لضيف رسول الله صلى الله عليه وسلم. ففعلت.
ثم غدا الضيف على رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لقد عجب الله الليلة من فلان وفلانة» وأنزل الله فيهما: وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah ﷺ mengeluhkan rasa lapar. Rasulullah ﷺ berusaha mencari makanan melalui rumah-rumah Ummahatul Mukminin, tetapi tidak menemukan apa pun. Beliau kemudian bersabda, "Siapakah yang bersedia menjamu orang ini malam ini? Semoga Allah merahmatinya."
Seorang sahabat Anshar, yang dalam sebagian riwayat disebut sebagai Sayyiduna Abu Thalhah رضي الله عنه, menyatakan kesanggupannya.
Sesampainya di rumah, beliau berkata kepada istrinya:
"Muliakanlah tamu Rasulullah ﷺ."
Sang istri menjawab:
"Demi Allah, yang ada hanya makanan untuk anak-anak kita."
Abu Thalhah lalu berkata:
"Jika anak-anak meminta makan malam, tidurkan mereka. Padamkan lampu, dan malam ini kita tahan lapar demi menjamu tamu Rasulullah ﷺ."
Mereka pun melakukannya.
Keesokan harinya Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sungguh Allah merasa kagum terhadap apa yang dilakukan oleh fulan dan fulanah tadi malam."
Lalu Allah menurunkan firman-Nya:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Kisah ini mengajarkan bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak lahir dari banyaknya harta, tetapi dari besarnya cinta yang hidup di dalam hati warganya. Persatuan tidak dibangun oleh kesamaan kepentingan semata, melainkan oleh kesediaan untuk saling berkorban dan saling mengutamakan.
Karena itu, ketika Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya:
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
sesungguhnya Allah sedang mengajarkan bahwa musuh terbesar persatuan bukanlah perbedaan, melainkan egoisme. Bukan keberagaman yang menghancurkan kebersamaan, tetapi kecenderungan setiap orang untuk selalu mendahulukan dirinya sendiri.
Tahun Baru Hijriyyah mengajak kita untuk meneladani kaum Anshar; menjadi pribadi yang mencintai sesama, tulus tanpa iri, serta mampu mengalahkan kepentingan diri demi kemaslahatan bersama. Sebab dari sinilah keberkahan akan turun. Dari sinilah persatuan akan tumbuh. Dan dari sinilah jalan menuju kesuksesan serta kebahagiaan dunia dan akhirat akan terbuka.
Selamat Tahun Baru Hijriyyah. Semoga Allah menghimpun hati kita dalam persaudaraan, menguatkan persatuan bangsa dan umat, serta melimpahkan keberkahan-Nya kepada kita semua.
Editor: M.A. Agustianto