Sejarah PCNU Kota Surabaya: Merawat Aswaja di Tengah Perubahan Zaman
Pendahuluan
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Surabaya (PCNU Kota Surabaya) merupakan salah satu cabang Nahdlatul Ulama yang memiliki peran strategis dalam sejarah, dinamika keagamaan, dan kehidupan sosial masyarakat perkotaan di Indonesia. Keberadaan PCNU Surabaya tidak dapat dilepaskan dari identitas Surabaya sebagai kota santri, kota dagang, sekaligus pusat pergerakan sosial-keagamaan sejak awal abad ke-20.
Sebagai organisasi keagamaan terbesar di tingkat cabang kota, PCNU Surabaya menjadi simpul penting dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, penguatan umat, serta penjaga harmoni keislaman di tengah kompleksitas masyarakat urban.
Surabaya dan Akar Tradisi Keulamaan
Jauh sebelum Nahdlatul Ulama berdiri secara formal pada tahun 1926, Surabaya telah menjadi ruang tumbuh tradisi keislaman yang kuat. Kawasan Ampel dikenal sebagai pusat dakwah Islam sejak era Walisongo, sekaligus menjadi magnet bagi para santri, ulama, dan pedagang dari berbagai wilayah Nusantara.
Tradisi keilmuan Islam di Surabaya berkembang melalui pesantren, majelis taklim, dan jaringan ulama yang berafiliasi dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Pola keberagamaan masyarakat Surabaya sejak awal menunjukkan karakter inklusif, moderat, dan berakar pada tradisi lokal, nilai-nilai yang kelak menjadi ciri utama Nahdlatul Ulama.
Lahirnya NU dan Konsolidasi di Surabaya
Didirikannya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926 di Surabaya menjadi momentum penting dalam sejarah Islam Indonesia. Kota Surabaya bukan hanya saksi, tetapi juga rahim lahirnya NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang berorientasi pada penjagaan tradisi keislaman dan kepentingan umat.
Seiring berdirinya NU, struktur kepengurusan di tingkat lokal mulai dibentuk, termasuk di wilayah Surabaya. PCNU Kota Surabaya kemudian hadir sebagai wadah konsolidasi ulama, kiai, dan tokoh masyarakat dalam mengelola dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan secara terorganisir.

Peran PCNU Surabaya di Masa Perjuangan
Pada masa penjajahan hingga awal kemerdekaan, PCNU Surabaya memainkan peran signifikan dalam mendampingi umat. Ulama dan kader NU di Surabaya aktif dalam:
- Penguatan pendidikan pesantren dan madrasah
- Pembinaan akidah dan amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah
- Perlawanan kultural terhadap kolonialisme
- Mobilisasi umat dalam perjuangan kemerdekaan
- Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan juga menjadi ruang perjuangan ulama NU, baik secara fisik maupun spiritual, dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
Memasuki masa Orde Lama dan Orde Baru, PCNU Surabaya menghadapi tantangan modernisasi dan urbanisasi. Kota Surabaya tumbuh menjadi metropolitan, dengan dinamika sosial yang semakin kompleks.
Dalam konteks ini, PCNU Surabaya bertransformasi menjadi organisasi yang tidak hanya fokus pada dakwah keagamaan, tetapi juga:
- Penguatan lembaga pendidikan formal dan nonformal
- Pemberdayaan ekonomi umat
- Pengelolaan lembaga sosial dan kesehatan
- Penguatan peran badan otonom NU di tingkat kota
- PCNU Surabaya berupaya menjaga keseimbangan antara tradisi (turats) dan modernitas, agar NU tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Di era reformasi hingga digital saat ini, PCNU Kota Surabaya dihadapkan pada tantangan baru: globalisasi informasi, perubahan pola keberagamaan generasi muda, serta munculnya paham keagamaan transnasional.

Menjawab tantangan tersebut, PCNU Surabaya mengembangkan:
- Dakwah berbasis perkotaan dan komunitas
- Penguatan literasi keislaman moderat
- Dakwah digital dan media online
- Sinergi dengan pemerintah dan elemen masyarakat sipil
- PCNU Surabaya meneguhkan posisinya sebagai penjaga moderasi beragama sekaligus penggerak harmoni sosial di tengah masyarakat majemuk.
Sejarah PCNU Kota Surabaya adalah sejarah tentang keteguhan menjaga tradisi, kecerdasan membaca zaman, dan komitmen melayani umat. Dari masa awal keulamaan, era perjuangan, hingga tantangan modernitas, PCNU Surabaya terus hadir sebagai pilar penting kehidupan keagamaan dan kebangsaan.
Dengan berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dan terbuka terhadap perubahan, PCNU Kota Surabaya menegaskan perannya bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai kekuatan moral dan sosial bagi Kota Surabaya dan Indonesia.
Referensi Historis (untuk transparansi & validitas)
- Fealy, Greg & Barton, Greg. Nahdlatul Ulama, Traditional Islam and Modernity in Indonesia.
- Bruinessen, Martin van. NU: Tradisi, Relasi Kuasa, dan Pencarian Wacana Baru.
- Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008.
- Dokumen dan Khittah Nahdlatul Ulama.
- Arsip sejarah NU dan literatur pesantren Jawa Timur.
